Pemikiran filsafati banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Namun pada dasarnya
filsafat baik di Barat, India, dan Cina muncul dari yang sifatnya religius. Di
Yunani dengan mitosnya, di India dengan kitabnya Weda (Agama Hindu)dan di Cina dengan Confusiusnya. Di Barat mitos dapat
lenyap sama sekali dan rasio yang menonjol, sedangkan di India filsafat tidak
pernah bisa lepas dengan induknya dalam hal ini agama Hindu. Pembagian secara
periodisasi filsafat Barat adalah zaman Kuno, zaman Abad Pertengahan, zaman
Modern, dan Masa Kini. Aliran yang muncul dan berpengaruh terhadap pemikiran
filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme, Fenomenologi,
Pragmatisme, dan NeoKantianianisme dan Neo-tomisme. Pembagian secara periodisasi Filsafat Cina
adalah zaman kuno, zaman pembauran, zaman Neo-Konfusionisme, dan zaman modern.
Tema yang pokok di filsafat Cina adalah masalah perikemanusiaan (jen).
Pembagian secara periodisasi filsafat India adalah periode Weda, Wiracarita,
Sutra-sutra, dan Skolastik. Dalam filsafat India yang penting adalah bagaimana
manusia bisa berteman dengan dunia bukan untuk menguasai dunia. Adapun pada
Filsafat Islam hanya ada dua periode, yaitu periode Mutakallimin dan periode
filsafat Islam. Untuk sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di sini pembahasan
mengacu ke pemikiran filsafat di Barat.
Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam sejarah
poradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir manusia
dari mite-mite menjadi yang lebih rasional. Pola pikir mite-mite adalah pola pikir masyarakat yang sangat
mengandalkan mitos untuk menjelaskari fenomena alam,
Perubahan pola pikir tersebut kelihatannya sederhana, tetapi
implikasinya tidak sederhana karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi
kemudian didekati bahkan dieksploitasi. manusia yang dulunya pasif dalam
menghadapi fenomena alam menjadi lebih proaktif dan kreatif ,sehingga alam
dijadikan objek penelitian dan pengkajian. Dari proses inilah kemudian ilmu
berkembang dari rahim filsafat, yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk
teknologi. Karena itu periode perkembangan filsafat Yunani merupakan poin untuk
memasuki peradaban baru ummat manusia.
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidak langsung secara
mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. untuk memahami sejarah
perkembangan ilmu mau tidak mau harus melalui pembagian atau klasifikasi secara
periodik; karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam
perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoritis
senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Periodesasi perkembangan ilmu di
sini dimulai dari peradaban Yunani dan diakhiri pada kontemporer.(Drs.Surajiyo
;hal 80)
B. Zaman Purba (15 SM - 7 S1V)
Pada dasarnya manusia di zaman
purba hanyalah menerima semua peristiwa sebagai fakta. Sekalipun dilaksanakan
pengamatan, pengumpulan data dan sebagainya, namun mereka sekadar menerima
pengumpulan saja. Fakta-fakta hanya diolah sekadarnya, hanya untuk menemukan soal yang sama, yaitu common denominator, itu pun barangkali tanpa
sengaja, tanpa tujuan. Kalaupun ada penegasan atau keterangan, maka keterangan
itu senantiasa dihubungkan dengan dewa-dewa dan mistik. Oleh karena itulah
pengamatan perbintangan menjelma menjadi astrologi. pengamatan yang dilakukan
oleh manusia pada zaman purba, yang menerima fakta sebagai brute factr atau on
the face value, menunjukkan bahwa manusia di zaman purba masih berada pada
tingkatan sekedar menerima, baik dalam sikap maupun dalam pemikiran (receptive
attitude dan receptive mind) (Santoso,1977: 27).
Perkembangan
pengetahuan dan kebudayaan manusia pada zaman purba dapat diruntut jauh ke
belakang, bahkan sebelum abad 15 SM, terutama pada zaman batu. Pengetahuan pada
masa itu diarahkan pada pengetahuan yang bersifat praktis, yaitu pengetahuan
yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Kapan dimulainya zaman batu
tidak dapat ditentukan dengan pasti, namun para ahli berpendapat bahwa zaman
batu berlangsung selama jutaan tahun.
Sesuai
dengan namanya, zaman batu, pada masa itu manusia menggunakan batu sebagai peralatan. Hal ini
tampak dari temuan- temuan seperti kapak yang digunakan untuk memotong
membelah. Selain menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu manusia pada
zaman itu juga menggunakan tulang binatang. Alat yang terbuat dari tulang
binatang antara lain digunakan
menyerupai fungsi jarum untuk menjahit. Ditemukannya benda- benda hasil
peninggalan pada zaman batu merupakan suatu bukti bahwa manusia sebagai makhluk
berbudaya mampu berkreasi untuk mengatasi tantangan alam sekitarnya.
Seiring
dengan perkembangan waktu, benda-benda yang
dipergunakan pun mengalami kemajuan dan perbaikan. Penemuan dilakukan
berdasarkan pengamatan, dan mungkin dilanjutkan dengan percobaan-percobaan
tanpa dasar, menuruti proses and error. Akhirnya, dari proses trial and error, yang memakan waktu ratusan bahkan
ribuan tahun inilah terjadi perkembangan penyempurnaan pembuatan alat-alat yang
digunakan, sehingga manusia menemukan bahan dasar pembuatan alat yang baik,
kuat serta hasilnya pun menjadi lebih baik. Dengan demikian tersusunlah
pengetahuan know how. Dalam bentuk know how itulah penemuan-penemuan tersebut diwariskan
pada generasi-generasi selanjutnya.
Perkembangan
kebudayaan terjadi lebih cepat setelah manusia menemukan dan menggunakan api
dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan api untuk menghangatkan tubuh,
ketergantungan manusia akan iklim menjadi berkurang Api kemudian juga digunakan
untuk memasak dan perlengkapan dalam berburu. Di zaman yang lebih maju
nantinya, arti api menjadi lebih penting. Pengetahuan tentang proses pemanasan dan peleburan merintis jalan pada
pembuatan alat dari tembaga, perunggu dan besi. Dalam catatan sejarah misalnya, peralatan besi digunakan pertama kali di
Irak abad ke-15 SM (Brouwer,1982:6).
Perkembangan
pengetahuan secara lebih cepat terjadi beberapa ribu tahun sebelum Masehi.
peristiwa ini terjadi ketika manusia berada pada zaman batu muda. pada masa ini mulailah revolusi besar
dalam cara hidup manusia. Manusia mulai mengenal pertanian, mengenal kehidupan
bermukim (menetap), membangun rumah, mengawetkan makanan, memulai irigasi, dan
mulai beternak hewan. Pada masa
itu juga telah muncul kemampuan menulis, membaca dan berhitung. Dengan adanya
kemampuan menulis, beberapa peristiwa penting dapat dicatat dan kemudian dapat
dibaca oleh orang lain sehingga akan lebih cepat disebarkan. Kemampuan
berhitung juga sangat menunjang perkembangan pengetahuan karena catatan tentang
suatu peristiwa menjadi lebih lengkap dengan data yang relatif lebih teliti dan
lebih jelas.
Menurut Anna
Poedjiadi (1987:28-32) pada zaman purba perkembangan pengetahuan telah tampak
pada beberapa bangsa, seperti Mesir, Babylonia, Cina dan India. Ada keterkaitan
saling pengaruh antara perkembangan pemikiran di satu wilayah dengan wilayah
lainnya. Pembuatan alat-alat perunggu di Mesir abad ke-17 SM memberi pengaruh
terhadap perkembangan yang diterapkan di Eropa. Bangsa Cina abad ke-15 SM juga
telah mengembangkan teknik peralatan perunggu di zaman Dinastii Shang,
sedangkan peralatan besi sebagai perangkat perang sudah dikenal pada abad ke-5 SM pada zaman Dinasti Chin. India memberikan surnbangsih yang besar dalam perkembangan matematik dengan
penemuan sistem bilangan desimal. Budhisme yang diadopsi oleh raja Asoka,
kaisar ketiga Di Mautya, telah menyumbangkan sistem bilangan yang menjadi titik
tolak perkembangan sistem bilangan pada zaman modern: India bahkan sudah
menemukan roda pemutar untuk pembuat tembikar pada abad ke-30 SM. Sayangnya
peradaban yang sudah maju itu
mengalami kepunahan pada abad ke-20 SM, baik yang disebabkan oleh bencana alam maupun oleh peperangan.
Secara umum
dapat dinyatakan bahwa pengetahuan pada zaman purba ditandai dengan adanya lima
kemampuan, yaitu (1) pengetahuan didasarkan pada pengalaman (empirical
knowledge (2) pengetahuan berdasarkan pengalaman itu diterima sebagai fakta
dengan sikap receptive mind, dan
kalaupun ada keterangan tentang fakta tersebut, maka keterangan itu bersifat
mistis,magis dan religius; (3) kemampuan menemukan abjad dan sistem bilangan alam sudah menampakkan perkembangan
pemikiran manusia ke tingkat abstraksi; (4) kemampuan menulis, berhitung,
menyusun kalender yang didasarkan atas sintesis terhadap abstraksi yang dilakukan;
dan (5) kemampuan meramal peristiwa-peristiwa fisis atas dasar
peristiwa-peristiwa sebelumnya yang pernah terjadi, misalnya gerhana bulan dan
matahari (Santoso,1977: 27-28)
C. Zaman Yunani (7 SM - 6 M)
Zaman Yunani
Kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang
memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada
masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena Bangsa Yunani pada
masa itu tidak lagii mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak
dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (suatu sikap menerima begitu saja),
melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude
(suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu
pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai
ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa
filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras, Socrates, Plato, dan
Aristoteles.
Zaman Kuno meliputi zaman
filsafat pra-Socrates di Yunani. Tokoh-tokohnya dikenal dengan nama filsuf
pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal
dari segala sesuatu. Menurut
Thales arche itu air, Anaximandros berpendapat arche itu `yang tidak terbatas'
(to apeiron). Anaximenes arche itu udara, Pythagoras arche itu bilangan, dan
Heraklitos arche itu api, ia juga berpendapat bahwa segala sesuatu itu terus
mengalir (panta rhei). Parmenedes mengatakan bahwa segala sesuatu itu tetap
tidak bergerak. (Lasiyo dan Yuwono,1985: 52)
1. Zaman
Keemasan Filsafat Yunani
Pada waktu Athena dipimpin oleh Perikles
kegiatan politik filsafat dapat berkembang dengan baik. Ada segolongan kaum yang
pandai berpidato (rethorika) dinamakan kaum sofis. Mereka mengajarkan
pengetahuan pada kaum muda. menjadi objek penyelidikannya bukan lagi alam
tetapi manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Pythagoras, manusia adalah ukuran untuk segala-galanya. Hal ini
ditentang oleh Socrates dengan mengatakan bahwa yang- benar dan yang baik
dipandang sebagai nilai-nilai objektif yang dijunjung tinggi oleh semua orang. Akibat ucapannya tersebut Socrates dihukum mati.
Hasil pemikiran Socrates dapat
ditemukan pada muridnya Plato. Dalam filsafatnya Plato mengatakan: realitas
seluruhnya terbagi atas dua dunia yang hanya terbuka bagi
panca indra dan dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita.
Dunia yang pertama adalah dunia jasmani dan yang kedua dunia ide.
Pendapat tersebut dikritik
oleh Aristoteles dengan mengatakan
bahwa yang ada itu adalah manusia-manusia yang konkret “ide manusia' tidak
terdapat dalam kenyataan”. Aristoteles adalah filosof realis, dan sumbangannya
pada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Sumbangan yang sampai sekarang
masih digunakan dalam ilmu pengetahuan adalah mengenai abstraksi, yakni
aktivitas rasional di mana seseorang memperoleh pengetahuan. Menurut
Aristoteles ada tiga macam abstraksi, yakni abstraksi fisis, abstraksi
matematis, dan metafisis.
Abstraksi yang ingin menangkap
pengertian dengan membuang unsur-unsur individual untuk mencapai kualitas
adalah abstraksi fisis. Sedangkan abstraksi di mana subjek menangkap unsur kuantitatif dengan menyingkirkan unsur
kualitatif disebut abstraksi matematis. Abstraksi di mana seseorang menangkap
unsur-unsur yang hakiki dengan mengesampingkan unsur-unsur lain disebut
abstraksi metafisis. (Harry Hamersma,1983)
Teori Aristoteles yang cukup terkenal adalah tentang materi dan bentuk.
Keduanya merupakan prinsip-prinsip metafisis, materi adalah prinsip yang tidak
ditentukan, sedangkan bentuk adalah prinsip yang menentukan. Teori ini terkenal
dengan sebutan Hylemorfisme. (K. Bertens,1988:11-16)
2. Masa Helinistis dan Romawi.
Pada zaman Alexander Agung telah berkembang sebuah kebudayaan trans
nasional yang disebut kebudayaan Helinistis, karena kebudayaan Yunani tidak
terbatas lagi pada kota-kota Yunani saja, tetapi mencakup juga seluruh wilayah yang ditaklukkan Alexander Agung.
Dalam bidang filsafat, Athena tetap merupakan suatu pusat yang penting, tetapi
berkembang pula pusat-pusat intelektual lain, terutama kota Alexandria.
Akhirnya ekspansi Romawi meluas sampai ke wilayah Yunani, itu tidak berarti
kesudahan kebudayaan dan filsafat Yunani, karena kekaisaran Romawi pun pintu
dibuka lebar untuk menerima warisan kultural Yunani.
Dalam bidang filsafat tetap
berkembang, namun pada saat itu tidak ada filsuf yang sungguh-sungguh besar
kecuali Plotinus.
Pada masa ini muncul beberapa
aliran berikut.:
a. Stoisisme
Menurut paham ini jagat raya
ditentukan oleh kuasa-kuasa yang disebut Logos. Oleh karena itu, segala kejadian berlangsung menurut ketetapan yang tidak
dapat dihindari.
b. Epikurisme
Segala-galanya
terdiri atas atom-atom yang senantisa bergerak. Manusia akan bahagia jika mau
mengakui susunan dunia ini dan tidak boleh takut pada dewa-dewa.
c.Skeptisisme
Mereka
berpikir bahwa bidang teoretis manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Sikap
umum mereka adalah kesangsian
d. Eklitisisme
Suatu
kecenderungan umum yang mengambil berbagai unsur filsafat dari aliran-aliran
lain tanpa berhasil mencapai suatu Pemikiran yang sungguh-sungguh.
e. Neo Platonisme
Paham yang ingin menghidupkan kembali filsafat Plato. Tokohnya adalah
Plotinus. Seluruh filsafatnya berkisar pada Allah sebagai yang satu. Segala
sesuatu berasal dari `yang satu` dan ingin kembali kepada-Nya. (K.
Bertens,1988:16-18)
D. Zaman Pertengahan (6 M -15 M)
Zaman
pertengahan merupakan suatu kurun waktu yang ada hubungannya dengan sejarah
bangsa-bangsa di benua Eropa. Pengertian umum tentang zaman pertengahan yang
berkaitan dengan perkembangan pengetahuan ialah suatu periode panjang yang
dimulai dari jatuhnya kekaisaran Romawi Barat tahun 476 M hingga timbulnya Renaissance di Italia.
Zaman
pertengahan (Midle Age) ditandai dengan pengaruh yang cukup besar dari
agama Katolik terhadap kekaisaran dan perkembangan kebudayaan pada saat itu.
Pada umumnya orang Romawi sibuk dengan
masalah keagamaan tanpa memperhatikan masalah duniawi dan ilmu pengetahuan.
Pada masa itu yang tampil dalam lapangan ilmu pengetahuan adalah para teolog.
Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog sehingga aktivitas
ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Dengan kata lain, kegiatan ilmiah
diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada
masa ini adalah ancilla theologiae, abdi agama. Oleh karena itu sejak jatuhnya
kekaisaran Romawi Barat hingga kira-kira abad ke-10, di Eropa tidak ada
kegiatan dalam bidang ilmu pengetahuan yang spektakuler yang dapat dikemukakan.
Periode ini dikenal pula dengan sebutan abad kegelapan.
Menjelang
berakhirnya abad tengah, ada beberapa kemajuan yang tampak dalam masyarakat
yang berupa penemuan-penemuan. Penemuan-penemuan tersebut antara lain pembaruan
penggunaan bajak yang dapat mengurangi penggunaan energi petani. Kincir air
mulai digunakan untuk menggiling jagung.
Pada abad
ke-13 ada pula kemajuan dan pembaruan dalam bidang perkapalan dan navigasi
pelayaran. Perlengkapan kapal memperoleh kemajuan sehingga kapal dapat
digunakan lebih efektif. Alat-alat navigasinya pun mendapat kemajuan pula.
Kompas mulai digunakan orang di Eropa. Keterampilan dalam membuat tekstil dan
pengolahan kulit memperoleh kemajuan setelah orang mengenal alat pemintal
kapas.
Kemajuan lain yang penting pada masa akhir abad tengah adalah keterampilan
dalam pembuatan kertas. Keterampilan ini berasal dari Cina dan dibawa oleh
orang Islam ke Spanyol. Di samping itu orang juga telah mengenal percetakan dan
pembuatan bahan peledak.
Berbeda dengan
keadaan di Eropa yang mengalami abad kegelapan, di dunia Islam pada masa yang
sama justru mengalami masa keemasan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peradaban
dunia Islam, terutama pada zaman Bani Umayah telah menemukan suatu cara
pengamatan astronomi pada abad ke-7 M, delapan abad sebelum Galileo Galilei dan
Copernicus melakukannya. Pada zaman keemasan kebudayaan Islam juga dilakukan
penerjemahan, berbagai karya Yunani, dan bahkan khalifah Al-Makmun telah
mendirikan Rumah Kebijaksanaan (House of Wisdom) pada abad ke-9 M.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang pesat pada dunia Islam tersebut dimungkinkan oleh adanya
pengamatan yang terus-menerus dan pencatatan yang teratur serta adanya dorongan
dan bantuan dari pihak para raja yang memerintah. Dengan demikian untuk pertama
kalinya dalam sejarah, tiga faktor penting yaitu politik, agama dan ilmu
pengetahuan, berada pada satu tangan, raja atau sultan. Keadaan ini sangat
menguntungkan perkembangan ilmu pengetahuan lebih lanjut. Selama 600 - 700
tahun lamanya kemajuan kebudayaan dan ilmu pengetahuan tetap ada pada
bangsa-bangsa yang beragama Islam.
Menurut Slamet Iman Santoso
(1997:64) sumbangan sarjana Islam dapat diklasifikasikan dalam tiga hal, yaitu
: (1) menerjemahkan peninggalan bangsa Yunani dan menyebarluaskannya sedemikian
rupa, sehingga pengetahuan ini menjadi dasar perkembangan kemajuan di dunia
Barat sampai sekarang, (2) memperluas pengamatan dalam lapangan ilmu
kedokteran, obat-obatan, astronomi, ilmu kimia, ilmu bumi, dan ilmu
tumbuh-tumbuhan dan (3) menegaskan sistem desimal dan dasar-dasar aljabar.
Beberapa orang yang memberi
sumbangan besar dalam perkembangan pengetahuan dan teknologi di dunia Islam
antara lain A1 Khawarizmi, Omar Khayam, Jabir Ibnu Hayan, Al-Razi, Ali Ibnu
Sina, Al-Idrisi dan Ibn Khaldun.
Muhammad Ahmad AL Khawarizmi
menyusun buku Aljabar pada tahun 825 M, yang menjadi buku standar beberapa abad
lamanya di Eropa. Ia juga menulis buku tentang perhitungan biasa (arithmetics).
Buku tersebut menjadi pembuka jalan di Eropa untuk mempergunakan cara desimal,
yang menggantikan penulisan dengan angka Romawi. Khawarizmi luga telah
memperkenalkan persamaan pangkat dua dalam aljabar.
Jabir Ibnu Hayan (720 – 800 M )
banyak mengadakan eksperimen, antara lain tentang ktistalisasi, melarutkan,
sublimasi, dan reduksi. Di samping mengadakan eksperimen, ia juga banyak
menulis antara lain tentang proses pembuatan baja, pemurnian logam, memberi
warna pada kain dan kulit, cara membuat kain tahan air, cara pembuatan zat
warna untuk rambut. Ia juga menulis tentang pembuatan tinta, pembuatan gelas,
cara memekatkan asam cuka dengan cara distilasi. Mengeni unsur-unsur ia berpendapat bahwa logam atau
mineral itu terdiri atas dua unsur penting yakni raksa dan belerang dengan
berbagai macam susunan. Logam atau
mineral berbeda karena susunan unsur-unsurnya berbeda.
Dalam bidang kedokteran muncul
nama-nama terkenal seperti Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi atau di
negara Barat dikenal dengan sebutan Razes (850-923 M) dan Ibn Sina atau
Avicenna (980-1037 M). Razes sangat banyak menulis buku, di antaranya100 buah
buku tentang kedokteran, 33 buah buku tentang ilmu pengetahuan alam termasuk
alkimia, l l buah buku tentang matematika dan astronomi, dan lebih dari 45 buah
buku tentang filsafat dan teologia. Salah satu hasil karyanya tersebut adalah
sebuah ensiklopedia kedokteran berjudul Continens. Sementara itu Ibn Sina juga menulis buku-buku tentang kedokteran yang diberi nama Al-,Qanun. Buku ini menjadi buku standar dalam ilmu kedokteran di Eropa sampai ±
tahun 1650. (Santoso, 1997: 63). Selain itu Abu'1 Qasim atau Abu'1 Casis
menulis sebuah ensiklopedi kedokteran, yang antara lain menelaah,
ilmu bedah serta menunjukkan peralatan yang dipakai dimasa itu {± tahun 1013).
Ibn Rushd atau Averoes (1126-1198
M) seorang ahli kedokteran yang menerjemahkan dan mengomentari karya-karya
Aristoteles. Dari tulisannya terbukti bahwa Ibn Rushd mengikuti aliran evolusionisme,
yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa semua yang ada di dunia tidak tercipta
tiba-tiba dan dalam keadaan yang selesai, melainkan semuanya terjadi melalui
perkembangan, untuk akhirnya menjelma dalam keadaan yang selesai.
Tokoh lain yang juga turut
berjasa dalam pengembangan ilmu
pengetahuan di dunia Islam, terutama dalam bidang geografi adalah
Al-Idrisi (1100-1166 M). la telah membuat 70 peta dari daerah yang dikenall
pada masa itu untuk disampaikan kepada Raja Roger II dari kerajaan Sicilia.
Dalam khasanah pengetahuan
sosial, di dunia Islam terdapat nama Ibn Khaldun (1332 -1406 M), yang memiliki
nama lengkap Abu Zaid Abdal-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami.
la merupakan seorang ahli sejarah, politik, sosiologi, dan ekonomi, Ia sering dianggap sebagii perintis ilmu sosial dan peletak dasar
sosiologi. Hasil karyanya yang termasyhur adalah sebuah buku berjudul
A1-Muqaddimah. Dalam bukunya tersebut, ia membahas tentang perkembangan
masyarakat dan perubahan dalam masyarakat. Sebagai penemu ilmu masyarakat-yang
baru, Ibn Khaldun berusaha keras agar objektif dalam memaparkan masyarakat
ketimbang menemukan obat untuk menyembuhkan "penyakit" masyarakat
(Baali,1989:191).
Dalam pandangan Ibn Khaldun,
gejala sosial mengikuti pola dan hukum tertentu, dan dengan sendirinya akan
menghasilkan akibat-akibat tertentu pula. Dikatakan bahwa hukum-hukum sosial
tidak hanya mengena pada perseorangan, tetapi pada semua orang. Hukum-hukum
sosial akan berlaku sama bagi masyarakat, meskipun terpisah ruang dan waktu: Oleh karena itu hukum-hukum ini
tidak dipengaruhi oleh seseorang. Seorang pemimpin tidak dapat memperbaiki
keadaan sosial, kalau tidak mendapat dukungan dari masyarakat.
Sebagai peletak dasar sosiologi,
Ibn Khaldun mempergunakan banyak metode dan teori untuk menjelaskan faktor yang ada dalam masyarakat. Misalnya, bangsa terjajah akan meniru bangsa yang menjajah, karena merasa bahwa
kemenangan disebabkan oleh keunggulan, baik teknik maupun lembaganya, dan hal
itu perlu ditiru supaya yang terjajah juga rriendapatkan kesuksesan.
Pokok pemikiran dari Ibn Khaldun
terletak pada `asabiyah atau solidaritas sosial yang menjadi kodrat manusia
yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia ialah makhluk sosial, oleh karena itu
diperlukan suatu ikatan dalam bentuk negara. Solidaritas sosial ini amat kuat
pada masyarakat pengembara. Negara dapat terbentuk dan menjadi kuat atas dasar
solidaritas ini, tetapi setelah terbentuk berkuranglah ikatan solidaritas,
karena adanya kekuasaan yang harus dipatuhi. Dengan demikian tujuan dari
solidaritas adalah kekuasaan.
E: Zaman Renaissance (14 M -17 M)
Zaman Renaissance ditandai
sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama.
Renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan Abad Pertengahan mulai
berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini adalah manusia
yang merindukan pemikiran yang bebas. Manusia
ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur
tangan Ilahi. Penemuan ilmu
pengetahuan modern' sudah mulai dirintis pada Zaman Renaissance. Ilmu
pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi.
Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler,
dan Galileo Galilei. Berikut cuplikan pemikiran para filusuf tersebut.
l. Roger Bacon, berpendapat
bahwa pengalaman (empiris) menjadi landasan utama bagi awal dan ujian akhir
bagi semua ilmu pengetahuan. Matematika merupakan syarat mutlak untuk mengalah
semua pengetahuan.
2.Copernicus, mengatakan bahwa
bumi dan planet semuanya mengelilingi matahari, sehingga matahari menjadi pusat
(heliosentririsme). Pendapat ini berlawanan dengan pendapat umum yang berasal
dari Hipparahus dan Ptolomeus yang menganggap bahwa bumi sebagai pusat alam
semesta (geosentrisme).
3, Johannes
Keppler, menemukan tiga buah hukum yang melengkapii penyelidikan Brahe
sebelumnya, yaitu:
a. Bahwa gerak benda angkasa
itu ternyata bukan bergerak mengikuti lintasan circle, namun gerak itu mengikuti lintasan elips. Orbit semua planet berbentuk
elips.
b. Dalam waktu yang sama,
garis penghubung antara planet dan matahari selalu melintasi bidang yang
luasnya sama.
c. Dalam perhitungan
matematika terbukti bahwa bila jarak rata-rata dua planet A dan B dengan
matahari adalah X dan Y, sedangkan waktu untuk meliintasi orbit masing-masing
adalah P dan Q, maka P2: Q2 X3: Y3.
4. Galileo Galilei, membuat sebuah teropong bintang yang terbesar pada masa
itu dan mengamati beberapa peristiwa angkasa secara langsung. Ia menemukan
beberapa peristiwa panting dalam bidang astronomi. Ia melihat bahwa planet
Venus dan Mercurius menunjukkan perubahan-perubahan seperti halnya bulan,
sehingga ia menyimpulkan bahwa planet-planet tidaklah memancarkan cahaya sendiri,
melainkan hanya memantulkan cahaya dari matahari (Rizal Mustansyir,1996)
F. Zaman Modern (17 M -19 IV)
Zaman modern ditandai dengan
berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman
modern sesungguhnya sudah dirintis sejak Zaman Renaissance. Seperti Rene
Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes
juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem
koordinat .Selain itu pada zaman ini ada juga filsuf-filsuf lain misalnya:
Isaac Newton, Caharles Darwin.
G. Zaman Kontemporer (Abad ke-20 dan seterusnya)
Di antara ilmu khusus yang dibicarakan oleh para filsuf, bidang fisika
menempati kedudukan yang paling tinggi. Menurut Trout (dalam Riza1 Mustansyir,
dkk., 2001) fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya
mengandung unsur-unsur fundamental yang membentuk alam semesta. la juga menunjukkan bahwa secara historis hubungan
antara fisika dengan filsafat terlihat dalam dua cara. Pertama, diskusi filosofis mengenai
metode fisika, dan dalam interaksi antara pandangan substansial tentang fisika
(misalnya: tentang materi, kuasa, konsep ruang, dan waktu). Kedua, ajaran filsafat tradisional yang menjawab
fenomena tentang materi, kuasa, ruang, dan waktu. Dengan demikian, sejak semula
sudah ada hubungan yang erat antara filsafat dan fisika.
Fisikawan termasyhur abad ke-20 adalah Albert Einstein. Ia menyatakan bahwa
alam itu tidak berhingga besarnya dan tidak terbatas, tetapi juga tidak berubah
status totalitasnya atau bersifat statis dari waktu ke waktu. Einstein percaya
akan kekekalan materi. Ini berarti bahwa alam semesta itu bersifat kekal, atau
dengan kata lain tidak mengakui adanya penciptaan alam. Dii samping teori
mengenai fisika, teori alam semesta, dan lain-lain, Zaman Kontemporer ini
ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan
informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari
penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya.
Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi
ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer mengetahui hal yang sedikit,
tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan
subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Di samping
kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara
bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu baru
seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi kloning. (Rizal
Mustansyir, dkk., 2001)
B.
Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Modern
Filsafat
modern lahir melalui proses panjang yang berkesinambungan, dimulai dengan
munculnya abad Renaissance. Istilah ini diambil dari bahasa Perancis
yang berarti kelahiran kembali. Karena itu, disebut juga dengan zaman
pencerahan (Aufklarung). Pencerahan kembali mengandung arti “munculnya
kesadaran baru manusia” terhadap dirinya (yang selama ini dikungkung oleh
gereja). Manusia menyadari bahwa dialah yang menjadi pusat dunianya bukan lagi
sebagai obyek dunianya.
Zaman modern
ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu
pengetahuan pada zaman modern ini sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Renaissance.
Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh usaha besar dari Descartes untuk
memberikan kepada filsafat suatu bangunan yang baru. Filsafat berkembang bukan
pada zaman Renaissance itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (Zaman
Modern).
Renaissance lebih dari sekedar kebangkitan
dunia modern. Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia,
merupakan periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah
Abad Kegelapan sampai muncul Abad Modern. Zaman ini juga disebut sebagai zaman Humanisme.
Maksud ungkapan ini ialah manusia diangkat dari Abad Pertengahan yang mana
manusia dianggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan
ukuran Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat manusia. Humanisme
menghendaki ukuran haruslah manusia. Karena manusia mempunyai kemampuan
berpikir, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan
mengatur dunia.
Jadi, zaman Modern
filsafat didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial
zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman modern.
Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh pertama
filsafat modern adalah Descartes. Pada filsafat kita menemukan ciri-ciri Renaissance
tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani
(Renaissance), Individualisme, Humanisme, lepas dari pengaruh
agama dan lain-lain.
Filsafat
modern menampakkan karakteristiknya dengan lahirnya aneka aliran-aliran besar
filsafat, yang diawali oleh Rasionalisme dan Empirisme. Selain
kedua aliran itu, juga akan diketengahkan aliran-aliran besar lainnya yang
ikut berperan mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme,
materialisme, positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme.
Filsafat
abad modern pada pokoknya ada 3 aliran:
1)
Aliran Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M).
2)
Aliran Empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292 M).
3)
Aliran Kriticisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M).
Para filsuf
zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau
ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia
sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat.
Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio:
kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme, sebaliknya,
meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang
inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua
pendapat berbeda itu.
C.
Aliran-Aliran Yang Muncul Pada Zaman Modern Beserta Tokoh-Tokohnya Serta
Pemikirannya
Rasionalisme
Kata rasionalisme
terdiri dari dua suku kata, yaitu “rasio” yang berarti akal atau pikiran, dan
“isme” yang berarti paham atau pendapat. Rasionalisme ialah suatu paham
yang berpendapat bahwa “kebenaran yang tertinggi terletak dan bersumber dari
akal manusia.” Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa
akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut
aliran ini, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.
Hanya rasio
sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanyalah tindakan
akal yang terang-benderang yang disebut Ideas Claires et Distinctes (pikiran
yang terang-benderang dan terpilah-pilah). Idea terang-benderang ini pemberian
Tuhan sebelum orang dilahirkan (idea innatae = ide bawaan). Sebagai
pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak benar.
Oleh karena
itu, rasio dipandang kecuali sebagai alat untuk memperoleh
pengetahuan/kebenaran, juga sekaligus sebagai sumber pengetahuan/kebenaran.
Adapun pengetahuan indera dianggap sering menyesatkan.
Aliran
rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang
filsafat. Dalam bidang agama aliran rasionalisme adalah lawan dari autoritas
dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang
filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering
berguna dalam menyusun teori pengetahuan. Jika empirisme mengatakan
bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui obyek empirisme,
maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara
berpikir, pengetahuan dari empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun
alat berpikir adalah kaidah-kaidah yang logis.
Sejarah rasionalisme
sudah tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam
filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas sekali pada orang-orang sofis dan
tokoh-tokoh penentangnya (Socrates, Plato, Aristoteles), dan juga beberapa
tokoh sesudah itu. Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme
ialah Descartes yang dibicarakan setelah ini. Bersamaan dengan itu akan
dibicarakan juga tokoh besar rasionalisme lainnya, yaitu Baruch Spinoza
dan Leibniz. Setelah periode ini rasionalisme dikembangkan secara
sempurna oleh Hegel yang kemudian terkenal sebagai tokoh rasionalisme
dalam sejarah.
Di dalam
karangan ini rasionalisme dilihat terutama sebagai reaksi terhadap
dominasi Gereja pada Abad Pertengahan Kristen di Barat. Sebagaimana nanti dapat
dilihat, pada konteks itulah kepentingan Descartes dibicarakan agak panjang
lebar di sini. Descartes lebih diperhatikan karena ada keistimewaan padanya:
keberaniannya melepaskan diri dari kerangkeng yang mengurung filosof Abad
Pertengahan.
Zaman modern
dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh filsafat Descartes. Tentu saja
pernyataan ini bermaksud menyederhanakan permasalahan. Kata modern di sini
hanya digunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amat
berbeda, bahkan berlawanan, dengan corak filsafat pada Abad Pertengahan
Kristen. Corak utama filsafat modern yang dimaksud di sini ialah dianutnya
kembali rasionalisme seperti pada masa Yunani Kuno. Gagasan itu,
disertai oleh argumen yang kuat, diajukan oleh Descartes. Oleh karena itu,
gerakan pemikiran Descartes sering juga disebut bercorak renaissance.
Apa yang lahir kembali itu? Ya, rasionalisme Yunani itu. Yang harus
diamati di sini ialah apakah konsekuensi rasionalisme pada masa Yunani
akan terulang kembali.
Descartes
dianggap sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertrand Russel, anggapan itu
memang benar. Kata “Bapak” diberikan kepada Descartes karena dialah orang
pertama pada Zaman Modern itu yang membangun filsafat yang berdiri atas
keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dialah orang
pertama di akhir Abad Pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang
distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan
perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya.
Menurut
catatan, Descartes adalah orang Inggris. Ayahnya anggota parlemen Inggris. Pada
tahun 1612 Descartes pergi ke Prancis. la taat mengerjakan ibadah menurut
ajaran agama Katholik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu
masih ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja. Dari tahun 1629 sampai tahun 1649 ia
menetap di Belanda.
Pengaruh
keimanan yang begitu kuat pada Abad Pertengahan, yang tergambar dalam ungkapan credo
ut intelligam itu, telah membuat para pemikir takut mengemukakan pemikiran
yang berbeda dengan pendapat tokoh Gereja. Apakah ada filosof yang mampu dan
berani menyelamatkan filsafat yang dicengkeram oleh iman Abad Pertengahan itu?
Ada. Tokoh itu adalah Descartes.
Descartes
telah lama merasa tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban
dan banyak memakan korban itu. Amat lamban terutama bila dibandingkan dengan
perkembangan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia melihat tokoh-tokoh Gereja yang
mengatasnamakan agama telah menyebabkan lambannya perkembangan itu. la ingin
filsafat dilepaskan dari dominasi agama Kristen. Ia ingin filsafat dikembalikan
kepada semangat filsafat Yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Ia
ingin menghidupkan kembali rasionalisme Yunani.
Tokoh
Rasionalisme dan Pemikirannya
Rene
Descartes (1596-1650)
Peletak
fondasi aliran ini ialah Rene Descastes (Certasius/1596-1650) yang digelar
sebagai “Bapak filsafat modern”. Descartes berasal dari Perancis, lahir tahun
1596 di sebuah kota bernama La Haye, dan wafat tahun 1650 di Stockholm. Karya
pentingnya ialah Discours de la Methode (Uraian tentang Metode), terbit
tahun 1637; Mediationes de Prima Philosophia (Renungan Tentang
filsafat), terbit tahun 1641; dan Principia Philosophic (Prinsip-prinsip
Filsafat), terbit tahun 1644. Semboyan dari aliran ini ialah ungkapan
Descartes yang berbunyi: Cogito ergo sum/I think therefore I’m
(saya berpikir maka saya ada).
Dari
ungkapan sederhana ini, dapat diambil beberapa rumusan, sebagai berikut:
- Eksistensi manusia yang paling sempurna ialah rasionya, sehingga rasio berperan sebagai “pengenal dirinya” sesuai dengan koherensi antara berpikir dan berada. Artinya keberadaan manusia terwujud/terkonsep setelah dia memikirkan dirinya.
- Dengan rasio, manusia berhasil menemukan kesan (pengetahuan baru) tentang dirinya yang tidak atau kurang diketahui sebelumnya, kecuali melalui sumber lain, yaitu kitab suci.
- Rasio tidak hanya sebagai penemu kesan (pengetahuan dan kebenaran) melainkan kebenaran/pengetahuan hanyalah yang diperoleh melalui rasio tersebut.
Untuk
menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu)
segala sesuatu yang dapat diragukan. Mula-mula ia mencoba meragukan semua yang
dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah
pertama metode cogito tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri.
Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi,
dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas.
Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam
keadaan yang sesungguhnya. Di dalam mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu
yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula
pada pengalaman halusinasi, ilusi, dan kenyataan gaib. Tidak ada batas yang
tegas antara mimpi dan jaga. Oleh karena itu, Descartes berkata,” Aku dapat
meragukan bahwa aku duduk di sini dalam pakaian siap untuk pergi ke luar; ya,
aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi persis seperti itu,
padahal aku ada di tempat tidur, sedang bermimpi.” Tidak ada batas yang tegas
antara mimpi (sedang mimpi) dan jaga. Tatkala bermimpi, rasa-rasanya seperti
bukan mimpi. Siapa yang dapat menjamin kejadian-kejadian waktu jaga (yang kita
katakan sebagai jaga ini) sebagaimana kita alami adalah kejadian-kejadian yang
sebenarnya, jadi bukan mimpi? Tidak ada perbedaan yang jelas antara mimpi dan
jaga; demikian yang dimaksud oleh Descartes.
Aku yang
sedang ragu itu disebabkan oleh aku berpikir. Kalau begitu, aku berpikir
pasti ada dan benar. Jika aku berpikir ada, berarti aku ada sebab
yang berpikir itu aku. Cogito ergo sum, aku berpikir, jadi aku ada.
Sekarang Descartes telah menemukan dasar (basis) bagi filsafatnya. Basis itu
bukan filsafat Plato, bukan filsafat Abad Pertengahan, bukan agama atau yang
lainnya. Fondasi itu ialah Aku yang berpikir. Pemikiranku itulah yang
pantas dijadikan dasar filsafat karena aku yang berpikir itulah yang
benar-benar ada, tidak diragukan, bukan kamu atau pikiranmu..Di sini
kelihatanlah sifat subjektif, individualists, humanis dalam filsafat
Descartes. Sifat-sifat inilah, nantinya, yang mendorong perkembangan filsafat
pada Abad Modern
Setelah
fondasi itu ditemukan, mulailah ia mendirikan bangunan filsafat di atasnya.
Akal itulah basis yang paling terpercaya dalam berfilsafat.
Spinoza
(1632-1677)
Nama
lengkapnya ialah Baruch de Spinoza, dalam bahasa Latin disebut Benedictus dan
dalam bahasa Portugis dengan Bento. Spinoza lahir di Amesterdam, Belanda tahun
1632 dan wafat tahun 1677 di Den Haag. Sebagai filsuf pengikut rasionalisme,
Spinoza sangat tertarik kepada Descartes. Kecuali ahli dalam bidang filsafat,
filsuf ini juga ahli dalam bidang politik, teologia dan etika. Ini terekam
dalam tiga bukunya, yaitu Tractus Theologico Politicus (terbit tahun
1670), Ethica, Or dine Ceometrico Demonstrate (terbit tahun 1677), dan Tractus
Politicus (terbit tahun 1677).
Spinoza
mencita-citakan suatu system berdasarkan rasionalisme, untuk mencapai
kebahagiaan bagi manusia. Menurutnya aturan dan hukum yang terdapat pada semua
hal tidak lain dari aturan dan hukum yang terdapat pada idea. Sebagai dasar
segala-galanya harus diterima sesuatu yang tak terdasarkan kepada yang lain,
jadi yang mutlak.
Berbeda
dengan Descartes, sesuai dengan semboyannya “Deus sen Natura” (Tuhan atau
alam), Spinoza adalah seorang rasionalis yang mistik. Menurut Spinoza, seluruh
kenyataan merupakan kesatuan, dan kesatuan sebagai satu-satunya substansi sama
dengan Tuhan atau alam. Segala sesuatu termuat dalam Tuhan-alam. Tuhan sama
dengan aturan kosmos, Kehendak Tuhan berarti sama dengan kehendak alam,
sehingga hukum-hukum alam sama dengan kehendak Tuhan.
Leibniz
(1646-1716)
Gottfried
Eilhelm von Leibniz adalah filosof Jerman, pusat metafisikanya adalah idea
tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Metafisika
Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi, yaitu prinsip akal yang
mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai
alasan”. Bahkan Tuhan harus mempunyai alas an untuk setiap yang diciptakan-Nya.
Leibniz
berpendapat bahwa substansi itu banyak, ia menyebut substansi-substansi itu monad.
Setiap monad berbeda satu dari yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad
dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) adalah pencipta monad-monad
itu.
Empirisme
Istilah empirisme
berasal dari kata empiri yang berarti indra atau alat indra, dan ditambah
akhiran isme, sebagai suatu aliran yang berpendapat bahwa
pengetahuan/kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan
diperoleh/bersumber dari panca indra manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit
dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan
pengalaman manusia.
Untuk
memahami inti filsafat Empirisme perlu memahami dulu dua ciri pokok
Empirisme, yaitu mengenai teori makna dan teori tentang pengetahuan.
Teori makna
pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal
pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep. Pada Abad Pertengahan teori ini
diringkaskan dalam rumus Nihil est in intellectu quod non prius
fuerit in sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain
didahului oleh pengalaman). Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke
yang terdapat di dalam bukunya, An Essay Concerning Human Understanding,
yang dikeluarkannya tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (innate idea)
pada orang-orang rasionalis. Jiwa (mind) itu, tatkala orang dilahirkan,
keadaannya kosong, laksana kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada
tulisan di atasnya, dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui
pengalaman; yang dimaksud dengan pengalaman di sini ialah pengalaman inderawi.
Atau pengetahuan itu datang dari obervasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind)
kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut inner sense (pengindera
dalam).
Teori yang
kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut. Menurut
orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti “setiap kejadian tentu
mempunyai sebab”, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan
kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah
kebenaran a priori yang diperoleh lewat intuisi rasional. Empirisisme
menolak pendapat itu. Tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran
yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia
kebenaran a posteriori.
Aliran empirisme
dibangun oleh Francis Bacon (1210-1292) dan Thomas Hobbes (1588-1679), namun
mengalami sistimatisasi pada dua tokoh berikutnya, yaitu John Locke dan David
Hume.
Tokoh
Empirisme dan Pemikirannya
Francis
Bacon (1210-1292)
Menurut
Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang
diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman
merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Pengetahuan haruslah dicapai dengan induksi.
Jadi pemikiran Francis Bacon ini sangat bertentangan dengan pemikiran para
filosof aliran rasionalis.
Thomas
Hobbes (1588-1679)
Thomas
Hobbes berpendapat bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala
pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan
kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan
penggabungan data-data inderawi belaka.
John Locke
(1632-1704)
John Locke
adalah filosof Inggris. la lahir di Wrington, Somersetshire, pada tahun 1632.
Tahun 1647-1652 ia belajar di Westminster. Tahun 1652 ia memasuki Universitas
Oxford, mempelajari agama Kristen. Sementara ia mempelajari vaknya, ia juga
mempelajari pengetahuan di luar tugas pokoknya.
Filsafat
Locke dapat dikatakan antimetafisika. Ia menerima keraguan sementara
yang diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh
Descartes. Ia juga menolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan
generalisasi berdasarkan pengalaman; Jadi, induksi. Bahkan Locke menolak
juga akal (reason). la hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan
cara penarikan dengan metode induksi.
Buku Locke, Essay
Concerning Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan satu premis,
yaitu semua pengetahnan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada
yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang
pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato.
Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate idea; termasuk apa yang
diajarkan oleh Descartes, Clear and distinc idea. Adequate idea
dari Spinoza, truth of reason dari Leibniz, semuanya ditolaknya. Yang innate
(bawaan) itu tidak ada.
Segala
sesuatu berasal dari pengalaman indrawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari
sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi
(konsep tabula rasa). Dengan demikian, John Locke menyamakan pengalaman
batiniah (yang bersumber dari akal budi) dengan pengalaman lahiriah (yang
bersumber dari empiri). Ungkapan yang sering digunakan ialah: Exprience, in
that all knowledge is founded (Pengalaman, semua pengetahuan berdasarkan
pengalaman).
David Hume
(1711-1776)
Tokoh lain
ialah David Hume (1711-1776) pelanjut kajian Locke. Home lahir di Edinburg,
Scotland tahun 1711 dan wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang yang
menguasai hukum, sastera dan filsafat. Karya terpentingnya ialah A Treatise
on Human Nature, terbit tahun 1738-1740; An Enquiry Concerning Human
Understanding, terbit tahun 1748; dan An Enquiry into the Principles of
Moral, (terbit tahun 1751).
Pemikiran
empirisnya terakumulasi dalam ungkapannya yang sangat singkat, yaitu: I
never catch my self at any time with out a perception (Saya selalu memiliki
persepsi pada setiap pengalaman saya)
Dari
ungkapan ini Hume menyampaikan bahwa, “seluruh pemikiran dan pengalaman
tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan (impression) dan impression
inilah sebagai bahan dari ilmu.
Kriticisme
Pendirian
aliran Rasionalisme dan Empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme
berpendirian bahwa rasiolah sumber pengenalan atau pengetahuan, sedang Empirisme
sebaliknya berpendirian bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber tersebut.
Aliran ini
mencoba untuk memadukan perbedaan pendapat kedua aliran tersebut dengan
tokohnya adalah Immanuel Kant (1724-1804). Ia mencoba
mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini.
Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah
separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari
indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana
kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam
manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia.
Untuk
menghilangkan pertentangan di antara rasionalisme dan empirisme,
Kant mengadakan pemaduan di antara dua aliran ini dalam hal perumusan
kebenaran. Dalam kaitan ini Kant mengatakan:
Pengetahuan
merupakan hasil kerjasama dua unsur; pengalaman dan kearifan akal budi.
Pengalaman inderawi merupakan unsur a posteriori (yang datang kemudian),
sedangkan akal budi merupakan unsur a priori (yang datang lebih dahulu).
Kant
mengkritik Empirisme dan Rasionalisme, karena keduanya hanya
mementingkan satu dari dua unsur ini, sehingga hasilnya setiap kali berat
sebelah. Padahal, katanya, pengetahuan selalu merupakan sintesis.
Untuk menekan pertentangan itu Kant
megadakan tiga pembedaan perumusan kebenaran, yaitu akal budi (verstand),
rasio (vernunft) dan pengalaman inderawi.
Idealisme
Terma idealisme
berasal dari kata idea yang berarti gambaran atau pemikiran, dan isme
yang berarti paham atau pendapat. Idealisme ialah suatu pandangan dunia atau
metafisika yang menyatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat
hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Atau bisa disebut dengan aliran
filsafat yang menjelaskan bahwa kebenaran/pengetahuan sesungguhnya bukan
bersumber dari rasio atau empiri, melainkan dari gambaran manusia
tentang suatu pengamatan.
Tokoh
Idealisme dan Pemikirannya
J. G. Fichte
(1762-1914)
Fichte adalah
tokoh idealisme subyektif, yaitu pandangan bahwa sumber pengenalan/pengetahuan
bukanlah rasio teoritis atau praktis seperti kata Immanuel Kant, melainkan pada
aktivitas Ego. Pemikirannya didasarkan pada konsep Ego Mutlak; yang menemukan
dan meneruskan pengertian-pengertian tentang obyek; ego tidak hanya sebagai
“penemu”, melainkan kata Fichte sekaligus sebagai yang “menciptakan
benda-benda” (obyek). Dengan demikian, peran manusia sebagai subyek sangat
dominan di dalam menggagaskan sesuatu.
F. W. J. Schelling
(1775-1854)
Schelling
adalah tokoh idealisme obyektif sebagai kebalikan dari idealisme subyektif.
Menurut Schelling, kebenaran gambaran tentang dunia tidaklah ditentukan oleh
subyek (ego), melainkan oleh obyek pengamatan, yaitu bagaimana obyek itu
menampilkan dirinya, atau bagaimana obyek menyadarkan subyek. Apabila aku (ego)
menentukan kehendak, hal itu diharuskan oleh kemestian yang mendahului
kehendak, yaitu seluruh obyek pengamatan kecuali sebagai pemberi kehendak, juga
sebagai pemberi arah bahkan mampu merubah kehendak.
Hegel
(1770-1831)
Hegel adalah
tokoh idealisme mutlak, yang sangat berperan bagi penyemburnaan idealisme.
Hegel berhasil menampilkan idealisme yang terpadu setelah dikoyak-koyak oleh
Fichte dan Schelling. Apabila Fichte bersifat subyektif dan Schelling bersifat
obyektif, maka Hegel melihat secara keseluruhan (totalitas).
Membuktikan
kebenarannya yang mutlak itu, Hegel menyusun alur pikir yang disebut dengan dialektika,
yaitu tesis, antitesis dan sintesis.
Materialisme
Berasal dari
“materi” yang berarti benda. Materialisme adalah aliran filsafat yang
berpendapat bahwa, kebenaran tidaklah ditentukan oleh gambaran, melainkan oleh
benda dan seluruh kenyataan yang ada dirumuskan dan ditentukan oleh benda.
Aliran ini memandang bahwa realitas seluruhnya adalah materi belaka.
Tokoh
Materialisme dan Pemikirannya
Ludwig
Feuerbach (1804-1872)
Menurutnya
hanya alamlah yang ada. Manusia adalah alamiah juga seperti halnya benda
seperti kayu dan batu. Memang orang materialis tidak mengatakan bahwa manusia
sama dengan benda seperti kayu dan batu, tetapi materialisme
mengatakan bahwa pada akhirnya/pada prinsipnya/pada dasarnya manusia hanyalah
sesuatu yang material; dengan kata lain materi, betul-betul materi. Menurut
bentuknya memang manusia lebih unggul ketimbang sapi, batu, atau pohon, tetapi
pada eksistensinya manusia sama saja dengan sapi.
Karl Marx
(1818-1883)
Pokok
pemikiran Marx diambil dari ajaran Filsafat Hegel dan Filsafat Feurbach.
Dari Hegel diambil metode dialektikanya dan mengenai sejarah, sedang dari
Feurbach diambil teori materialismenya. Ajaran filsafat Karl Marx disebut juga materialisme
dialektika, dan disebut juga materialisme historis. Disebut sebagai
materialisme dialektika karena peristiwa kehidupan yang didominasi oleh keadaan
ekonomis yang materiil itu berjalan melalui proses dialektika: tese,
antitese dan sintese. Disebut materialisme historis, karena menurut
teorinya, bahwa arah yang ditempuh sejarah sama sekali ditentukan oleh
perkembangan sarana-sarana produksi yang materiil.
Positivisme
Istilah
positivisme berasal dari kata “positive” yang berarti “jelas dan bisa
digambarkan serta bermanfaat”. Positivisme adalah aliran filsafat yang
berpangkal dari fakta yang positif. Sesuatu di luar fakta atau kenyataan
dikesampingkan dalam pembicaraan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Menurut
aliran ini, pemikiran manusia mengalami perkembangan, mulai dari yang sangat
sederhana, sampai yang modern, yaitu positif. Pada tahap ini manusia hanya
mempercayai yang riil saja berdasarkan ilmu positif (science positive)
yang didasarkan pada pengamatan (observasi) dan percobaan langsung (eksperimentasi).
Melalui dua pembuktian ini, segala yang berbau metafisis dibuang, karena tidak
bisa dibuktikan dengan dua pendekatan tersebut.
Tokoh aliran
ini adalah Auguste Comte (1798-1857), ia berpendapat bahwa indera
itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan
alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat
dikoreksi lewat eksperimen.
Jadi pada
dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya
menyempurnakan Empirisme dan Rasionalisme yang bekerja sama.
Dengan kata lain, ia menyempurnakan metoda ilmiah dengan memasukkan perlunya
eksperimen dan ukuran-ukuran. Jadi, pada dasarnya positivisme itu sama dengan Empirisme
plus Rasionalisme.
Fenomenologi
Istilah fenomenologi
berasal dari bahasa Yunani phainomenon yang mengandung tiga pengertian
saling terkait, yaitu “yang langsung nampak, sesuatu yang langsung menampakkan
diri tetapi masih terselubung dan proses penampakkan”. Berpijak pada tiga
pengertian di atas, maka fenomenologi menurut istilah yang
dikembangkan ialah “filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran merupakan hasil
deskripsi intuitif manusia terhadap suatu obyek sesuai dengan penampakan diri
(fenomena) obyek tersebut”.
Jadi aliran
ini berbeda dengan rasionalisme (subyektif), empirisme (obyektif) dan idealisme
(idealistik). Maka fenomenologi menggabungkan di antara subyek (manusia), obyek
(yang diamati) dengan cara pengamatan secara intuitif.
Tokoh
Fenomenologi dan Pemikirannya
Edmund
Husserl (1859-1938)
Beliau
adalah filosof Jerman dan pendiri Fenomenologi. Pemikiran terpentingnya adalah:
(1) Teori kebenaran; menurut Husserl kebenaran haruslah digabung di
antara subyek dengan obyek. Obyek diberi kesempatan memperkenalkan dirinya
kepada subyek yang mengamati, sesuai dengan semboyan zurukh zu den schen
selbs (kembalilah kepada benda-benda sendiri).
(2) Tiga
jenis reduksi; agar intuisi dapat menangkap gejala-gejala di atas secara
benar, maka manusia harus melepaskan diri dari pengalaman-pengalaman dan
gambaran sebelumnya yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Caranya ialah
dengan tiga jenis reduksi, yaitu: reduksi fenomenologis, reduksi
eiditis, reduksi fenomenologi transendental.
Max Scheler
(1874-1928)
Max Scheler
merupakan pelanjut tradisi fenomenologi. Pemikiran eksklusif Scheler dibanding
fenomenolog (filsuf fenomenologi) lainnya ialah tentang agama. Menurutnya,
agama dan filsafat merupakan dua entitas otonom sesuai dengan posisinya.
Kendati memiliki otonomi eksklusif, namun di antara keduanya memiliki
keterikatan. Misalnya, dengan memahami metafisis dalam filsafat tidak serta
merta dapat memahami konsep metafisika agama, karena keduanya memiliki aktus
kodrati yang berbeda. Sebab itu kebenaran agama hanya dapat diterima atas dasar
kepercayaan religius, bukan kebenaran metafisis-filosofis.
Di dalam
upaya menemukan kepercayaan religius, Scheler menggunakan pendekatan
fenomenologi. Melalui pendekatan fenomenologi ini, menurut Scheler, dapat
ditampilkan ciri dasar aktus religius, yaitu bahwa aktus itu mempunyai
intensi yang transendental dunia (yang ilahi), dan yang ilahi ini menjadi dasar
dari aktus religius. Dengan kata lain, aktus religius itu membutuhkan
pemenuhan intensional dari dunia transenden. Aktus religius membutuhkan
suatu obyek yang tak terbatas, yaitu yang ilahi. Oleh karena itu, kebutuhan
akus religius hanya dapat terpenuhi oleh sesuatu yang diyakini subyek sebagai
berasal dari Tuhan.
Eksistensialisme
Istilah eksistensialisme
berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist. Kata exist
itu sendiri adalaha bahasa Latin yang artinya: ex; keluar dan sistare;
berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.
Secara umum eksistensialisme dimaksudkan sebagai aliran filsafat yang
membicarakan keberadaan segala sesuatu, termasuk manusia. Permasalahannya
ialah, siapakah yang benar-benar berada (bereksistensi); apakah manusia, atau
Tuhan atau kedua-duanya.
Tokoh
Eksistensialisme dan Pemikirannya
Martin
Heidegger (1889-1976)
Pemikiran
Heidegger ialah mengenai ada/realitas dan waktu (sein und zeit), yaitu
apakah ada itu konkrit atau tidak. Persoalan yang menjadi sorotan utamanya
ialah pemaknaan “Aku ada”. Menurutnya, manusia adalah suatu makhluk yang
terlempar di dunia ini tanpa persetujuannya. Ia seolah berada di jurang
ketiadaan (nothingness) yang sangat dalam yang menyebabkannya gelisah. Hal
ini menurutnya, merupakan kelemahan manusia dan sebagai dorongan agar ia dapat
memahami akan eksistensinya. Sebagai puncak eksistensi, manusia berbeda dengan
benda-benda sekitarnya. Namun manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi
suatu benda.
Soren
Kierkegard (1813-1855)
Kierkegard
dipandang sebagai tokoh eksistensialisme teis, yaitu berupaya mengangkat
eksistensi manusia tanpa harus membuang jauh Tuhan dari kehidupan manusia.
Ungkapannya ialah: “Saya menjadi sebagaimana saya ada”. Melalui ungkapan ini
Kierkegard menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berkeistensi yang
berhadapan dengan eksistensi Tuhan. Hanya manusia yang bereksistensi bukan
berarti yang lain tidak ada. Hanya saja tingkat eksistensi dunia,
binatang-binatang dan makhluk lainnya lebih rendah, karena mereka hanya ada,
tidak mengada.
Pragmatisme
Pragmatisme
berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan,
perbuatan, dan juga manfaat. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang
berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu
memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya
menjadi relative tidak mutlak.
Tokoh
Pragmatisme dan Pemikirannya
William
James (1842-1910)
Sebagai
pendiri pragmatisme, pemikiran terpentingnya ialah mengenai makna pragmatisme.
Pragmatisme merupakan filsafat ala Amerika yang berciri pragmatis. Orang
Amerika tidak puas dengan filsafat teoritis yang bertanya “apa itu”, tetapi
memasuki filsafat praktis yang bertanya “apa gunanya”. Sistematisasi dari jenis
kedua inilah yang melahirkan filsafat pragmatisme. Oleh karena itu, dikaitkan
dengan aliran rasionalisme dan empirisme, pragmatisme berada di
antara dua aliran tersebut.
Pandangan
filsafatnya, diantaranya menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku
umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal.
Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam
perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam praktek, apa yang
kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
Ukuran
segala sesuatu ialah manfaat yang praktis. Pandangan ini mencakup seluruh aspek
kehidupan, termasuk agama dan moral. Dalam kaitan dengan agama, James tidak
bertanya “kebenaran agama” yang ia tanya ialah “apakah hasilnya agama menjadi
pedoman hidup saya”. Jadi, manusia bebas memilih di antara percaya dan tidak
percaya, sesuai dengan pertimbangan fragmatisnya. Begitu juga dalam bidang
moral, ukuran baik buruk ditentukan oleh adakah manfaat dari suatu perbuatan;
jika ada dipandang baik, dan jika tidak dipandang buruk.
John Dewey
(1859-1952)
Sebagai
pengikut filsafat pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat
adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut
dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya.
Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara
praktis.
Menurutnya
tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika
mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Maka dari
itu berpikir tidak lain daripada alat untuk bertindak. Kebenaran dari
pengertian dapat ditinjau dari berhasil tidaknya mempengaruhi kenyataan.
Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk
mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metoda induktif.
Referensi Umum
Hamersma, Harry.1984. Tokoh-Tokoh Filsafat Barat Modern.
Jakarta: PT Gramedia.
Nasution, Hasan Bakti. 2001. Filsafat Umum. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Poedjawijatna, I.R.2005. Pembimbing Ke Arah Filsafat. Cet. 12. Jakarta: Rineka Cipta.
Syadali, Ahmad dan Mudzakir.
November 1997. Filsafat Umum.
Cet. 1. Bandung: Pustaka Setia.
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Ilmu: Akal dan Hati Sejak Thales
Sampai Capra. Cet. 12. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
TIM Dosen Filsafat Ilmu Fak.
Filsafat UGM. 2004. Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Liberty.
Terima Kasih
Semoga
Bermanfaat
